JAKARTA, BATAVIA NEWS – Presiden Prabowo Subianto membuka kemungkinan melakukan perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih menjelang genap dua tahun pemerintahannya.
Di tengah wacana tersebut, Partai NasDem menyatakan tidak merasa memiliki hak untuk meminta posisi di kabinet. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai NasDem Hermawi Taslim menegaskan, keputusan mengenai reshuffle sepenuhnya berada di tangan Presiden.
“Merombak kabinet adalah kewenangan tunggal Presiden, beliau yang paling tahu setelah mengevaluasi seluruh pembantunya,” ujar Hermawi, Jumat (18/9/2026).
Hermawi mengatakan NasDem tetap memberikan dukungan terhadap pemerintahan Prabowo hingga masa jabatan berakhir pada 2029.
Menurut dia, dukungan tersebut salah satunya diwujudkan melalui sekitar 2.200 anggota legislatif NasDem yang berada di tingkat pusat hingga kabupaten/kota.
Namun ketika ditanya mengenai kemungkinan NasDem masuk ke dalam kabinet, Hermawi menyatakan partainya tidak merasa berhak mengambil posisi tersebut.
Ia beralasan NasDem tidak ikut dalam proses politik yang mengantarkan Prabowo hingga terpilih sebagai Presiden.
“NasDem merasa tidak berhak untuk ikut dalam kabinet karena NasDem tidak ikut berkeringat dalam proses pilpres hingga terpilihnya Presiden Prabowo,” katanya.
Hermawi mengatakan sikap tersebut ingin menunjukkan bahwa politik bagi NasDem tidak semata-mata berkaitan dengan perebutan jabatan atau kekuasaan.
“NasDem dengan sepenuh hati ingin menunjukkan kepada publik bahwa NasDem masih memiliki etika yang baik soal kepantasan dan ketidakpantasan. Politik bagi NasDem bukan sekadar kekuasaan mengejar kursi, tapi juga soal kepantasan dan ketidakpantasan dalam etika publik,” tuturnya.
Prabowo Buka Peluang Reshuffle
Sebelumnya, Prabowo menyampaikan bahwa kemungkinan reshuffle tetap terbuka menjelang dua tahun masa pemerintahannya.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam program Prabowo Menjawab yang ditayangkan pada Rabu (16/9/2026). Saat itu, Prabowo ditanya mengenai evaluasi terhadap jajaran menteri sekaligus kemungkinan adanya perombakan kabinet.
Prabowo mengatakan evaluasi terhadap jajaran pemerintahannya dilakukan secara berkelanjutan. Ia juga mengibaratkan kabinet seperti sebuah tim sepak bola yang memiliki pemain inti maupun pemain cadangan.
Menurut Prabowo, sejauh evaluasi yang dilakukan, para anggota kabinet masih bekerja dengan baik. Namun, pemerintah tetap harus berkonsentrasi pada persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi Indonesia.
Presiden juga menjelaskan bahwa reshuffle, jika dilakukan, dapat berkaitan dengan kebutuhan organisasi dan kompetensi pejabat.
Ia menekankan pentingnya menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuan dan posisi yang tepat.
“Kalau pun nanti ada reshuffle, saya kira antara lain mungkin untuk promosi orang. Tentunya kita organisasi ini kita selalu cari the right man in the right place, ya, kompetensi,” ujar Prabowo.
Prabowo juga menyebut pergantian pejabat dapat dilakukan apabila seseorang dinilai tidak sesuai dengan posisi yang ditempatinya atau terdapat persoalan yang harus dipertanggungjawabkan.
Ketika ditanya mengenai momentum dua tahun pemerintahan, Prabowo menyebut hal tersebut sebagai sesuatu yang logis untuk menjadi waktu evaluasi.
“Dua tahun, jadi masing-masing sudah punya waktu untuk membuktikan kemampuannya dan sebagainya,” kata Prabowo.
Dengan demikian, keputusan akhir mengenai ada atau tidaknya reshuffle tetap berada di tangan Presiden. Hingga saat ini, Prabowo belum mengumumkan susunan perubahan kabinet baru terkait wacana tersebut.***
