SUKABUMI, BATAVIA NEWS — Semangat belajar 129 siswa SDI Insan Mandiri di Kampung Cikondang, Desa Cihaur, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, tetap menyala meski mereka harus menempuh proses pendidikan dalam kondisi sekolah yang jauh dari kata layak.
Suara anak-anak berseragam putih-merah dan pramuka terdengar lantang dari ruang kelas sederhana. Mereka bersama-sama mengucapkan Dasadarma Pramuka di tengah bangunan sekolah yang sebagian ruangannya masih berlantai tanah.
Pemandangan tersebut menjadi kontras dengan suasana menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI. Ketika bendera Merah Putih mulai menghiasi berbagai sudut kampung, para siswa di sekolah tersebut justru masih bergelut dengan persoalan mendasar, mulai dari lantai tanah, atap yang bocor hingga keterbatasan ruang belajar.
Debu dari lantai tanah mudah beterbangan ketika siswa berjalan atau berpindah tempat. Kondisi atap juga belum dilengkapi plafon. Bagian atas ruangan hanya ditopang rangka kayu dan bambu dengan material asbes serta seng.
Bahkan, salah satu ruang kelas menggunakan tiang kayu di bagian tengah bangunan sebagai penyangga tambahan agar konstruksi atap tetap berdiri.
Saat cuaca panas, kondisi ruangan menjadi pengap. Sementara ketika hujan turun, kebocoran atap membuat air masuk ke ruang kelas dan berisiko membasahi buku serta perlengkapan belajar siswa.
Kepala SDI Insan Mandiri, Baen, mengatakan sekolah tersebut berdiri sejak 2018 atas inisiatif masyarakat dari dua kedusunan.
Sekolah itu dibangun karena keberadaan SD negeri terdekat dinilai terlalu jauh dan akses menuju lokasi cukup sulit, terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar.
“Karena jarak ke SDN jauh dan kondisi jalan rusak, warga kemudian bergotong royong membangun sekolah ini,” ujar Baen saat ditemui pada Sabtu (15/8/2026).
Menurut Baen, saat ini sekolah hanya mempunyai empat ruangan yang dapat digunakan. Tiga ruangan berada di bagian atas, sementara satu ruangan di bawah yang awalnya diperuntukkan bagi administrasi belum selesai namun terpaksa digunakan untuk kegiatan belajar.
Keterbatasan tersebut membuat jadwal belajar harus dibagi. Kelas satu digabung dalam jadwal dengan kelas tiga, sedangkan kelas dua berbagi waktu dengan kelas empat. Sementara kelas lima dan enam menggunakan ruang yang kondisinya paling memprihatinkan.
Baen menyebut kondisi bangunan yang rusak telah berlangsung sejak sekitar 2021-2022. Keterbatasan dana swadaya masyarakat membuat perbaikan belum dapat dilakukan secara menyeluruh.
Pihak sekolah mengaku telah memasukkan kondisi bangunan ke dalam Dapodik dan mengajukan proposal bantuan kepada sejumlah instansi. Pengawas sekolah juga telah melihat langsung kondisi bangunan tersebut.
Namun hingga kini, bantuan untuk pembangunan ruang kelas baru maupun rehabilitasi belum terealisasi.
“Kami berharap ada perhatian dari pemangku kebijakan agar pembangunan atau rehabilitasi bisa segera dilakukan. Yang paling penting anak-anak dan guru dapat belajar dengan aman dan nyaman,” kata Baen.
Guru Tetap Bertahan di Tengah Kondisi Serba Terbatas
Kegiatan belajar mengajar di SDI Insan Mandiri saat ini ditopang enam guru honorer. Mereka tetap menjalankan tugas meski harus bekerja dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Ati Sulastri, salah seorang guru yang menjadi wali kelas lima dengan 24 siswa, mengatakan ruang kelas yang digunakannya termasuk bagian sekolah dengan kondisi paling buruk.
Menurut Ati, debu dari lantai tanah sudah menjadi bagian dari keseharian selama proses pembelajaran. Kondisi semakin sulit ketika hujan karena atap ruangan mengalami kebocoran.
Selain itu, ruang kelas tersebut belum memiliki pintu secara sempurna. Kondisi itu membuat hewan seperti ayam dan kucing terkadang masuk ke dalam ruangan.
Di beberapa bagian lantai tanah juga ditemukan lubang yang diduga merupakan sarang tikus.
Meski demikian, Ati dan para guru lainnya memilih tetap mengajar karena keberadaan sekolah tersebut sangat dibutuhkan masyarakat sekitar.
“Daripada anak-anak tidak sekolah karena jarak SD negeri jauh, kami tetap mengajar meskipun kondisi ruangannya seadanya,” ujar Ati.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian, terutama untuk memperbaiki ruang kelas yang kondisinya paling memprihatinkan.
Siswa Ingin Sekolahnya Segera Diperbaiki
Kondisi tersebut juga dirasakan langsung para siswa. Elisa (11), siswi kelas enam, mengaku telah belajar dalam kondisi ruang kelas seperti itu selama lebih dari tiga tahun.
Ia mengatakan ruang kelas terasa panas dan pengap, sementara debu mudah muncul karena lantainya belum disemen maupun dipasangi keramik.
Elisa berharap sekolahnya segera mendapat bantuan perbaikan sehingga kegiatan belajar dapat berlangsung lebih nyaman.
“Harapan saya sekolah ini diperbaiki supaya kami bisa belajar lebih nyaman,” tuturnya.
Kondisi SDI Insan Mandiri menjadi gambaran bahwa semangat anak-anak untuk mendapatkan pendidikan tetap tumbuh meski fasilitas yang mereka miliki jauh dari ideal.
Di tengah perayaan kemerdekaan yang semakin dekat, 129 siswa di pelosok Simpenan, Sukabumi, masih menggantungkan harapan agar ruang belajar mereka dapat segera dibangun dan diperbaiki.***(AL)
