JAKARTA, BATAVIA NEWS — Permainan tradisional Betawi kembali mendapat ruang di tengah perkembangan teknologi digital. Unit Pengelola Kawasan (UPK) Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, menggelar pameran temporer tahunan yang mengangkat beragam permainan rakyat sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya.
Kepala UPK PBB Setu Babakan, Debby Novita Andriani, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan kembali kenangan masa lalu. Menurutnya, permainan tradisional menyimpan nilai pendidikan karakter yang masih relevan bagi generasi muda.
“Permainan rakyat mengajarkan kebersamaan, sportivitas, kesabaran, pengendalian diri, hingga kemampuan bekerja sama,” ujar Debby di Jakarta, Minggu (16/8/2026).
Pameran yang mengusung tema “Saban Maen Bikin Girang, Hiburan Jadul yang Kagak Ilang” itu menghadirkan sejumlah permainan khas masyarakat Betawi, di antaranya dampu, pletokan, dan permainan karet.
Pemilihan kata “maen”, kata Debby, sengaja digunakan untuk memperkuat nuansa identitas Betawi. Dalam kehidupan masyarakat Betawi, bermain tidak semata-mata berkaitan dengan menang atau kalah, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar berbagi, mengalah, bersabar, serta mengendalikan emosi.
“Bermain adalah tentang kebersamaan, belajar mengalah, bersabar, dan melatih pengendalian diri agar hati menjadi girang,” katanya.
Pameran tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk menyemarakkan HUT ke-81 Republik Indonesia. UPK PBB Setu Babakan berharap kegiatan ini dapat memperkuat posisi permainan rakyat sebagai bagian dari objek pemajuan kebudayaan di tengah arus modernisasi.
Debby menegaskan, Setu Babakan sebagai pusat edukasi sekaligus laboratorium budaya Betawi milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya mempertahankan identitas kebudayaan lokal di tengah perubahan Jakarta sebagai kota global.
Pelestarian tersebut dilakukan melalui pendekatan kolaboratif dengan melibatkan unsur pemerintah, masyarakat, akademisi, perguruan tinggi, serta sektor swasta.
Tak hanya memamerkan koleksi permainan tradisional, kegiatan tersebut juga diisi dengan agenda berbasis pengetahuan. Pengunjung dan peserta dapat mengikuti lokakarya musik Gambang Kromong serta pelatihan pembuatan bir pletok, minuman khas Betawi yang telah diatur dalam Pergub Nomor 11 Tahun 2017
.Debby berharap pameran dapat menjadi ruang interaksi bagi masyarakat sekaligus menumbuhkan kembali kebanggaan terhadap warisan budaya Jakarta.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak sepenuhnya menjadikan ruang digital sebagai sumber utama dalam memperluas wawasan. Mengenal sejarah dan kebudayaan lokal, menurutnya, tetap penting untuk membangun karakter.
“Melalui permainan ini, kita dapat mengembangkan karakter dan jati diri melalui kebersamaan, pengendalian emosi, serta kejujuran,” tuturnya.
Sementara itu, Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, mengapresiasi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan UPK PBB Setu Babakan yang kembali mengangkat permainan tradisional Betawi.
Menurut Widyastuti, kegiatan semacam ini dapat menjadi sumber pengetahuan berharga bagi generasi muda, termasuk Gen Z.
Ia berharap ada keseimbangan antara tingginya penggunaan teknologi dengan aktivitas yang mengenalkan kembali permainan tradisional. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya akrab dengan perkembangan digital, tetapi juga memahami akar budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Jakarta.***
