NUNUKAN, BATAVIA NEWS — Kematian Pratu Samuel Ebet Wuarlela prajurit, Yonarmed 4/Parahyangan Bandung yang bertugas dalam Satgas Pamtas Gabma Long Midang di wilayah perbatasan RI-Malaysia, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menyisakan sejumlah pertanyaan bagi pihak keluarga.
Pratu Samuel, 25 tahun, dilaporkan meninggal dunia pada Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 04.30 WITA setelah sempat dievakuasi ke RS Pratama Krayan. Informasi awal menyebut prajurit tersebut mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal di Desa Long Api dan mengalami benturan pada bagian kepala.
Namun, keluarga mempertanyakan sejumlah hal yang dinilai belum mendapatkan penjelasan secara menyeluruh. Mereka meminta agar penyebab kematian Pratu Samuel tidak langsung disimpulkan sebagai kecelakaan sebelum seluruh fakta di lapangan diperiksa secara transparan.
Keluarga Pertanyakan Kondisi Kendaraan
Salah satu hal yang menjadi perhatian keluarga adalah kondisi sepeda motor yang disebut berkaitan dengan kejadian tersebut.
Menurut informasi yang diterima keluarga, kendaraan tersebut tidak memperlihatkan kerusakan berat yang dianggap sebanding dengan benturan yang mengakibatkan korban mengalami luka fatal.
Selain itu, keluarga juga mempertanyakan jenis kendaraan yang digunakan Pratu Samuel ketika peristiwa terjadi.
Dalam kesehariannya, almarhum diketahui menggunakan sepeda motor pribadi jenis Satria FU. Sementara itu, muncul informasi bahwa pada saat kejadian terdapat penggunaan kendaraan dinas.
Perbedaan informasi tersebut membuat keluarga meminta adanya pemeriksaan yang dapat menjelaskan secara pasti kendaraan apa yang digunakan korban pada saat kejadian.
Minta Olah TKP dan Pemeriksaan Forensik
Keluarga meminta proses penyelidikan dilakukan secara profesional dan terbuka. Mereka berharap lokasi kejadian diperiksa secara menyeluruh, termasuk kondisi kendaraan serta kemungkinan adanya faktor lain yang berkaitan dengan kematian korban.
Sejumlah pemeriksaan yang diminta keluarga antara lain rekonstruksi kejadian di tempat kejadian perkara (TKP), pemeriksaan kendaraan, pemeriksaan luka pada tubuh korban, serta penelusuran komunikasi dan aktivitas terakhir Pratu Samuel.
Keluarga juga membuka kemungkinan dilakukannya pemeriksaan forensik dan autopsi apabila diperlukan untuk mengungkap penyebab kematian secara ilmiah.
“Jika ini murni kecelakaan, transparansi akan membersihkan segala spekulasi. Namun jika ada tindak kekerasan atau keterlibatan pihak lain, hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu,” ujar perwakilan keluarga.
Desak Panglima TNI Turun Tangan
Atas sejumlah pertanyaan yang belum terjawab, keluarga meminta perhatian Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto untuk memastikan proses penyelidikan berjalan secara menyeluruh.
Keluarga berharap dapat dibentuk tim investigasi yang melibatkan personel berkompeten, termasuk ahli forensik independen jika diperlukan, sehingga penyebab kematian Pratu Samuel dapat dipastikan berdasarkan bukti dan pemeriksaan ilmiah.
“Kami meminta Panglima TNI memerintahkan penyelidikan sampai tuntas. Jangan sampai kematian anak kami hanya ditutup dengan keterangan kecelakaan lalu lintas apabila masih ada kejanggalan yang belum terjawab,” kata perwakilan keluarga.
Hingga kini, keluarga masih menunggu kejelasan mengenai rangkaian peristiwa yang menyebabkan Pratu Samuel meninggal dunia. Mereka berharap seluruh pihak memberikan informasi secara terbuka agar tidak berkembang spekulasi di tengah masyarakat.
Keluarga menegaskan, tuntutan penyelidikan bukan untuk menuduh pihak tertentu, melainkan untuk memastikan penyebab kematian Pratu Samuel benar-benar terungkap dan memberikan kepastian bagi keluarga yang ditinggalkan.(TIM)
