NTT, BATAVIA NEWS — Mabes Polri memperkuat operasi penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengerahkan armada udara, personel SAR, anjing pelacak atau K9, serta bantuan logistik ke sejumlah wilayah terdampak.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat evakuasi dan distribusi bantuan, terutama ke daerah yang akses jalannya terputus akibat bencana.
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan pesawat Cassa Polri menjadi salah satu sarana utama mobilitas karena kondisi jalur darat di sejumlah lokasi tidak memungkinkan untuk dilalui.
Pesawat tersebut sebelumnya telah digunakan Kapolda NTT bersama jajaran Forkopimda untuk menjangkau sejumlah wilayah terdampak, termasuk Labuan Bajo dan Ende.
Menurut Trunoyudo, kecepatan armada udara menjadi penting dalam situasi bencana karena masih dilakukan pemetaan terhadap wilayah yang mengalami keterisolasian.
Selain pesawat Cassa, Polri menyiagakan tiga unit helikopter AW-169. Armada tersebut dipersiapkan untuk mendukung evakuasi sekaligus mengirimkan bantuan kepada masyarakat di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kerahkan 21 Personel dan 10 Anjing Pelacak
Dukungan operasi juga diperkuat dengan keberangkatan 21 personel Direktorat Polisi Satwa dan 10 ekor K9 dari Mako Polisi Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
Tim tersebut diberangkatkan menggunakan pesawat Polri CN295 atau Airbus C295 dengan nomor registrasi P-4501.
K9 dikerahkan untuk membantu pencarian korban, khususnya di lokasi yang mengalami kerusakan bangunan maupun tertimbun material akibat gempa.
Selain personel dan anjing pelacak, pesawat membawa perlengkapan SAR serta bantuan logistik dengan total berat sekitar 2,5 ton.
Bantuan tersebut meliputi tiga set tenda putih, enam set tenda pleton, 10 unit Wontech, serta 648 porsi makanan siap saji.
Setibanya di NTT, penempatan personel dan K9 akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan melalui koordinasi bersama Polda NTT. Wilayah Sikka, Manggarai, dan Manggarai Timur menjadi sejumlah daerah yang mendapat perhatian dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
Namun, personel dapat digeser ke wilayah lain apabila hasil koordinasi menunjukkan adanya kebutuhan evakuasi, pencarian korban, maupun mitigasi bencana.
Kapolri Perintahkan Percepatan Penanganan
Trunoyudo menyampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah menginstruksikan jajaran kepolisian untuk segera melakukan mitigasi, membantu evakuasi korban, dan mempercepat penanganan dampak gempa.
Polda NTT dan jajaran polres sebelumnya telah bergerak bersama pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya untuk melakukan evakuasi dan penanganan awal di wilayah terdampak.
Penguatan dari Mabes Polri dilakukan untuk menambah kemampuan personel dan peralatan, sekaligus menjangkau kawasan yang sulit diakses.
Korban Meninggal Capai 51 Orang
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Kabupaten Nagekeo, NTT, dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah.
Data sementara BNPB mencatat 51 orang meninggal dunia. Korban tersebar di Manggarai sebanyak 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka tiga orang, Ngada satu orang, dan Ende satu orang.
Dampak gempa juga menyebabkan 157 rumah mengalami rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah rusak ringan.
Kerusakan turut terjadi pada fasilitas publik. Tercatat 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah, enam kantor, serta sejumlah fasilitas umum lainnya terdampak bencana.
Dengan pengerahan armada udara, personel SAR, K9, dan logistik, Polri berupaya mempercepat pencarian korban sekaligus memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang masih berada di wilayah terisolir.***
