BOGOR, BATAVIA NEWS — Masa menjelang pensiun kerap menjadi fase yang penuh kekhawatiran. Tidak sedikit orang yang merasa bingung menentukan aktivitas setelah berhenti bekerja. Namun, kondisi berbeda dijalani Triono Hambali (TH), karyawan PT Pos Indonesia yang justru memanfaatkan masa persiapan pensiun untuk membangun sumber penghasilan baru.
Dari proses tersebut, Triono kini berhasil mengembangkan usaha Telor Asin 982 di kawasan Batu Tulis, Bogor. Produk yang dirintisnya secara bertahap itu bahkan telah mencapai penjualan hingga sekitar 10.000 butir.
Triono mengaku usaha tersebut bermula dari keinginan untuk belajar dan mencoba peluang baru sebelum memasuki masa pensiun.“Awalnya saya belajar dari seorang teman. Modal nekat dan kemauan untuk terus belajar,” ujar Triono.
Namun, perjalanan membangun usaha telur asin tidak langsung berjalan mulus. Ia harus memahami berbagai tahapan produksi, mulai dari memilih telur yang layak, menjalankan proses fermentasi secara tepat, hingga menemukan pasar yang sesuai.
Menurutnya, tantangan lain juga muncul dari sisi perputaran modal. Proses fermentasi yang membutuhkan waktu membuat modal tidak bisa langsung berputar. Persoalan pasokan telur juga terkadang menjadi kendala karena terdapat telur yang mengalami keretakan saat diterima.
Untuk mempertahankan kualitas produk, Triono menggunakan telur bebek pilihan yang didatangkan dari wilayah Kebumen dan sekitarnya. Ia pun masih terlibat langsung dalam proses penyortiran telur.
“Saya masih tetap harus turun tangan untuk penyortiran. Ini kunci untuk menjaga kualitas telur asin kita tetap terjaga. Kepuasan pelanggan nomor satu,” tegasnya.
Meski penjualan telah berkembang pesat, bisnis tersebut tetap menghadapi kondisi naik turun. Triono menyebut Ramadan dan periode akhir tahun menjadi salah satu masa yang cukup menantang karena biaya bahan baku dapat meningkat sementara daya beli masyarakat mengalami perubahan.
“Biasanya saat Ramadan dan akhir tahun, biaya bahan baku naik, sementara daya beli masyarakat sedikit menurun. Itu tantangan yang harus dihadapi setiap pengusaha,” katanya.
Triono menilai bisnis telur asin masih memiliki prospek yang terbuka. Peluang tidak hanya tersedia bagi produsen, tetapi juga bagi masyarakat yang ingin menjalankan usaha melalui sistem retail maupun reseller.
“Peluang telur asin masih sangat bagus. Baik diproduksi sendiri maupun sebagai penjual retail atau reseller,” ujarnya.
Untuk mengembangkan bisnisnya, Triono kini menyiapkan strategi pemasaran yang lebih luas. Jika sebelumnya penjualan banyak mengandalkan pesanan secara langsung, ke depan ia akan memanfaatkan tenaga sales serta memperluas distribusi ke kios-kios di pasar tradisional wilayah Bogor dan sekitarnya.
Bagi Triono, usaha yang dibangun menjelang pensiun bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi juga menjadi cara untuk mempersiapkan kehidupan setelah tidak lagi aktif bekerja.
Ia pun memberikan pesan kepada mereka yang ingin mulai berbisnis setelah memasuki masa pensiun agar tidak terburu-buru mengejar hasil.
“Jalani dulu sebagai hobi. Nikmati prosesnya. Setelah bisa melihat hasil yang didapat, baru lanjut dengan lebih fokus dan serius,” pungkasnya.
Kisah Triono Hambali menunjukkan bahwa masa menjelang pensiun dapat menjadi kesempatan untuk membuka jalan baru. Dengan kemauan belajar, ketekunan, serta konsistensi menjaga kualitas, masa purna tugas bukan harus menjadi akhir dari produktivitas, melainkan bisa menjadi awal lahirnya usaha yang berkembang.***
