JAKARTA, BATAVIA NEWS – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni tidak terlihat mendampingi Presiden Prabowo Subianto saat meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau, dan Palembang, Sumatera Selatan.
Absennya Raja Juli dalam agenda tersebut kemudian menjadi sorotan publik. Pasalnya, persoalan karhutla berkaitan erat dengan tugas Kementerian Kehutanan yang saat ini dipimpinnya.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan, tidak hadirnya Raja Juli dalam kunjungan Presiden bukan karena alasan khusus. Menurutnya, hal tersebut hanya persoalan kebetulan.
“Ya hanya kebetulan karena kan beberapa kali juga Menhut sudah berkunjung ke lapangan,” kata Prasetyo seusai mendampingi Presiden Prabowo, Senin.
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo didampingi sejumlah pejabat, di antaranya Prasetyo Hadi, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Prasetyo menjelaskan, agenda Presiden kali ini lebih diarahkan untuk memperkuat penanganan karhutla melalui dukungan personel dan peralatan di lapangan.
Presiden, kata dia, meminta TNI dan Polri meningkatkan kekuatan apabila diperlukan, termasuk dukungan helikopter water bombing serta kendaraan operasional berupa motor trail yang telah dimodifikasi.
“Bapak Presiden memang fokus kepada mengajak Kapolri maupun Panglima TNI untuk menambah kekuatan kalau dibutuhkan personel maupun alat-alat,” ujar Prasetyo.
Dalam rapat bersama jajaran aparat dan kepala daerah dari Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung, pemerintah menyatakan kondisi karhutla di sejumlah wilayah Sumatera relatif terkendali.
Meski titik api di beberapa daerah telah berkurang, asap masih muncul di sejumlah lokasi. Kondisi itu antara lain dipengaruhi karakteristik lahan gambut serta aktivitas pembakaran di wilayah tertentu.
Prasetyo menyebut Presiden juga mengapresiasi langkah preventif dan antisipatif yang dilakukan pemerintah daerah bersama unsur Forkopimda di wilayah terdampak.
Raja Juli Fokus Pantau Karhutla di Kalimantan
Di sisi lain, Raja Juli Antoni pada hari yang sama justru berada di Kalimantan Barat. Ia meninjau penanganan karhutla di Rasau Jaya Satu, Kabupaten Kubu Raya.
Raja Juli menyampaikan, berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) hingga 23 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB, jumlah titik panas di Kalimantan Barat tercatat 28 titik.
Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Ketapang dengan 16 titik, disusul Melawi 11 titik dan Kubu Raya satu titik.
Namun, penurunan titik panas tersebut belum dapat diartikan bahwa ancaman asap telah berakhir. Saat melakukan peninjauan, Raja Juli menyebut api di permukaan sudah tidak terlihat, tetapi asap masih ditemukan.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan karakteristik lahan gambut yang menyebabkan proses pembakaran berlangsung tidak sempurna dan menghasilkan asap lebih banyak.
Raja Juli juga menekankan bahwa pengendalian karhutla merupakan kerja bersama yang melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, BNPB hingga relawan.
Ia meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, terlebih kondisi cuaca saat ini dinilai sangat berisiko terhadap penyebaran api.
Raja Juli menyebut Indonesia tengah menghadapi fenomena El Nino yang kuat. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap kondisi saat ini sebagai musim kemarau biasa.
“Ini bukan musim kering biasa, ini El Nino sangat kuat,” tegas Raja Juli.
Pemerintah pun berharap penanganan karhutla di Sumatera, Kalimantan, maupun wilayah lain di Indonesia dapat segera dituntaskan dan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.***
