Seni Budaya

Tionghoa Indonesia dan Jejak Sosial Politik dalam Buku

JAKARTA, BATAVIA NEWS — Perjalanan sejarah, sastra, dan kebudayaan Tionghoa Peranakan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran para penulis dan intelektual yang tekun merekam perjalanan masyarakatnya melalui buku.

Sejumlah nama seperti Liem Thian Joe, Nio Joe Lan, Lie Kim Hok, Kwee Tek Hoay, Ong Hok Ham, Mona Lohanda, Myra Sidharta, Melly G. Tan, Wilson Tjandinegara, Leo Suryadinata, Melani Budianta, hingga David Kwa menjadi bagian dari jejak intelektual yang memperkaya khazanah pengetahuan mengenai Tionghoa Peranakan di Indonesia.

Karya-karya mereka tidak hanya memperlihatkan identitas ketionghoan, tetapi juga merekam hubungan sosial, kebudayaan, sejarah, serta dinamika politik yang berkembang di tengah perjalanan bangsa Indonesia.

Keberadaan penerbit seperti Kompas, Gramedia, Yayasan Obor Indonesia, Djambatan, GrafitiPress, Komunitas Bambu, Padasan, dan sejumlah penerbit lainnya turut memberikan ruang bagi lahir dan tersebarnya karya-karya tersebut.

Penerbitan buku dinilai memiliki nilai yang jauh lebih panjang dibandingkan kegiatan yang hanya menghasilkan kemeriahan sesaat. Buku meninggalkan catatan yang dapat dibaca, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ungkapan Latin scripta manent, verba volant—yang tertulis tetap tinggal, sementara yang terucap akan berlalu—menjadi pengingat bahwa tulisan dapat menjadi bagian dari ingatan kolektif sebuah bangsa.

Karena itu, kurangnya pengetahuan mengenai penulis Tionghoa Peranakan, judul buku yang mengangkat tema tersebut, maupun penerbit yang konsisten menerbitkannya, seharusnya tidak menjadi alasan untuk menyimpulkan bahwa masyarakat Tionghoa Peranakan enggan menampilkan identitas budayanya melalui karya intelektual.

Apresiasi terhadap buku juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan dunia intelektual. Dukungan terhadap penulis dan penerbit bukan semata-mata pembelian sebuah buku, melainkan turut menjaga agar pengetahuan dan pengalaman sejarah tidak hilang begitu saja.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dipenuhi berbagai bentuk hiburan dan kegiatan seremonial, buku tetap mempunyai tempat tersendiri sebagai warisan pengetahuan.

Membangun budaya membaca dan menghargai karya intelektual membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sebab, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat merawat pengetahuan, sejarah, kebudayaan, dan gagasan.

Pada akhirnya, manusia Indonesia diharapkan semakin terbuka untuk menghargai buku sebagai bagian dari investasi intelektual. Memberi ruang bagi lahirnya sebuah buku berarti ikut memberi makan pikiran, memperkaya jiwa, dan meninggalkan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi orang lain.***

Related posts

Peluncuran Buku “Djali-Djali Bintang Kedjora” Angkat Sejarah dan Budaya Betawi

egi murad

Mei Bulan Ismail Marzuki, Gerakan Budaya Nasional Resmi Dicetuskan di Jakarta

egi murad

Betawi Kudu Go Internasional”, Kartun Putra Gara Gaungkan Budaya Betawi Mendunia

egi murad

Leave a Comment