Seni Budaya

Mei Bulan Ismail Marzuki, Gerakan Budaya Nasional Resmi Dicetuskan di Jakarta

Jakarta Batavia News — Gagasan menjadikan Mei sebagai “Bulan Ismail Marzuki” resmi dicetuskan dalam konferensi pers yang digelar sehari setelah peringatan kelahiran ke-112 komponis legendaris Indonesia, Ismail Marzuki. Acara berlangsung di Auditorium Ki Nartosabdho, Kantor Pusat MURI dan Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Timur, Selasa (12/5/2026).

Pencanangan “Mei Bulan Ismail Marzuki” merupakan gagasan sastrawan dan budayawan Betawi, Chairil Gibran Ramadhan atau CGR. Dalam forum tersebut hadir pula Neno Warisman serta Jaya Suprana sebagai pembicara utama.

Dua poin penting menjadi fokus dalam konferensi pers tersebut. Pertama, mendorong pemerintah menetapkan Mei sebagai Bulan Ismail Marzuki secara informal sebagai bentuk penghormatan nasional terhadap sang komponis pejuang. Kedua, mendorong dukungan penuh pemerintah terhadap produksi film biopik Ismail Marzuki berdasarkan skenario riset karya CGR.

Menurut CGR, skenario tersebut dikerjakan sejak 2011 hingga 2017 bersama Enison Sinaro dan Laora Arkeman sebagai supervisor penulisan. Naskah itu bahkan telah mendapat restu langsung dari putri tunggal Ismail Marzuki, Rachmi Aziah, pada 2018.

“Skenario ini pada 2018 mendapat restu dan hak penulisan dari Ibu Rachmi Aziah dan beliau turut menjadi narasumber penulisannya,” ujar CGR.

Film biopik tersebut direncanakan diproduksi oleh PPFN bersama Padasan Pictures. Proyek ini diharapkan mampu mengangkat kembali perjalanan hidup Ismail Marzuki sebagai komponis nasional yang karya-karyanya melekat kuat dalam sejarah perjuangan bangsa.

Nama Ismail Marzuki sendiri telah diabadikan menjadi Taman Ismail Marzuki sejak era Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Ia juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004.

Dalam kesempatan itu, Jaya Suprana menegaskan kekagumannya terhadap karya-karya Ismail Marzuki. Bahkan, ia pernah memainkan 14 lagu ciptaan sang komponis dalam album “Suita Marzukiana” pada 2014. Seluruh keuntungan album tersebut disumbangkan untuk Yayasan Bhakti Luhur di Cilincing.

Sementara itu, Neno Warisman menilai pelestarian karya Ismail Marzuki memiliki nilai strategis bagi penguatan identitas budaya nasional. Dukungan pemerintah disebut penting agar warisan pemikiran dan karya seni tokoh bangsa tetap hidup di tengah masyarakat.

CGR menilai Ismail Marzuki merupakan komponis nasional yang berhasil merekam perjalanan sejarah revolusi Indonesia melalui lagu-lagunya. Beberapa karya monumental seperti “Gugur Bunga”, “Rayuan Pulau Kelapa”, “Halo-Halo Bandung”, hingga “Indonesia Tanah Pusaka” dinilai menjadi simbol nasionalisme lintas generasi.

Selain lagu perjuangan, sisi romantisme Ismail Marzuki juga hidup dalam karya seperti “Juwita Malam”, “Sabda Alam”, dan “Aryati”. Sementara lagu “Selamat Hari Lebaran” disebut sebagai salah satu karya yang merekam sejarah sosial Islam Betawi secara kuat dan tetap abadi hingga kini.

Tak hanya itu, Majalah Rolling Stone Indonesia pada 2008 menempatkan Ismail Marzuki dalam daftar “The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa”. Komponis Ananda Sukarlan juga pernah menciptakan “Concertpo Marzukiana” yang terinspirasi dari lagu-lagu Ismail Marzuki.

Di sisi lain, CGR turut mengungkap fakta memprihatinkan terkait barang peninggalan Ismail Marzuki. Menurut penuturan Rachmi Aziah, sejumlah barang peninggalan sang komponis pernah diminta pihak PKJ TIM pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso untuk keperluan pendirian Museum Ismail Marzuki. Namun hingga kini museum tersebut belum pernah terwujud.

Rachmi bahkan sempat meminta CGR memperjuangkan berdirinya museum tersebut sebelum dirinya meninggal dunia. Namun upaya itu disebut belum menemukan titik terang, termasuk kesulitan mengakses barang-barang peninggalan yang tersimpan di kawasan TIM.

Upaya produksi film dokumenter Ismail Marzuki yang diajukan CGR ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta pada 2018 juga disebut kandas di akhir proses administrasi. Hal serupa dialami saat tim film mencari dukungan ke Jawa Barat, meski Ismail Marzuki memiliki keterkaitan sejarah kuat dengan Kota Bandung.

Meski demikian, semangat menghadirkan film biopik Ismail Marzuki belum padam. Pihak PPFN disebut telah mengakui naskah karya CGR sebagai naskah matang yang siap diproduksi, namun masih terkendala pendanaan hingga 2026 ini.

Konferensi pers “Mei Bulan Ismail Marzuki” pun diharapkan menjadi momentum konsolidasi antara pelaku budaya, pemerintah, dan masyarakat untuk menjaga ingatan kolektif bangsa melalui karya seni dan budaya.***

Related posts

Rano Karno Diusulkan Beri Apresiasi Buku Sastra Betawi 100 Tahun, Jadi Momentum Sambut Jakarta 500 Tahun

egi murad

Permainan Tradisional Betawi Dihidupkan Kembali, Setu Babakan Ajak Generasi Muda Kenal Budaya

egi murad

Menjelang HUT ke-500 Jakarta, Betawi Academia Didorong Dukung Penerbitan Edisi Baru Kembang Goyang

egi murad