TABANAN, Batavia News – Semangat pelestarian adat dan budaya Bali kembali bergema dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Bedha, Kabupaten Tabanan. Melalui parade seni budaya bertema Nangun Kerthi Jagat Bali, masyarakat dari 38 banjar adat bersatu menampilkan berbagai warisan budaya sebagai wujud menjaga harmoni dan memperkuat persaudaraan.
Parade berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat (10/7/2026) hingga Minggu (12/7/2026). Beragam kesenian tradisional ditampilkan, mulai dari Tari Gambang, Tari Baris Kerkuak, Tari Baris Dabdab, parade baleganjur, gong kebyar, ogoh-ogoh, hingga parade penjor yang melibatkan seluruh banjar adat di Desa Adat Bedha.
Bendesa Adat Bedha, I Nyoman Arnaya, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarmasyarakat melalui nilai-nilai Tri Hita Karana.
Menurutnya, parade budaya menjadi momentum penting untuk mempertemukan seluruh banjar adat dalam satu kegiatan, sehingga masing-masing dapat saling mengenal sekaligus memperlihatkan kekayaan seni dan tradisi yang dimiliki.
“Melalui parade seni budaya ini kami ingin memantapkan harmonisasi antarmanusia sebagaimana konsep Tri Hita Karana. Seluruh banjar adat dapat berkumpul, saling mengenal, dan menunjukkan kekayaan seni budayanya,” ujar Arnaya saat ditemui di sela kegiatan, Sabtu (11/7/2026).
Arnaya menjelaskan, parade budaya diselenggarakan setiap lima tahun sekali dan menjadi bagian dari rangkaian HUT LPD Desa Adat Bedha. Menurutnya, LPD tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keuangan desa adat, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga kelestarian adat dan budaya Bali.
Seluruh pembiayaan parade budaya ditanggung oleh LPD Desa Adat Bedha sebagai bentuk komitmen mendukung pelestarian budaya sekaligus memperkuat peran LPD dalam pembangunan sosial dan budaya masyarakat.
Tidak hanya menampilkan seni tradisional, kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk mempromosikan produk unggulan desa. Salah satu yang menarik perhatian adalah kerajinan pembuatan keris dari Banjar Langudu, Desa Pangkung Tibah.
Arnaya berharap penyelenggaraan parade budaya mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui meningkatnya aktivitas perdagangan serta kunjungan masyarakat selama kegiatan berlangsung.
Ia juga menegaskan pentingnya melibatkan generasi muda dalam setiap kegiatan adat sebagai upaya menjaga keberlangsungan budaya Bali di tengah perkembangan zaman.
“Kami menekankan keterlibatan generasi muda dalam setiap kegiatan adat dan budaya. Keberlanjutan budaya Bali sangat bergantung pada partisipasi generasi penerus. Kita boleh bangga dengan kemajuan teknologi, tetapi kita tidak boleh melupakan budaya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua LPD Desa Adat Bedha, I Made Sunarta, mengatakan HUT ke-34 tahun ini mengusung tema “Bedha Bersatu Bersama Menuju Masyarakat Mandiri”.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Januari 2026, di antaranya penyaluran 500 paket sembako kepada masyarakat kurang mampu serta pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh masyarakat yang dinilai berjasa dalam membangun Desa Adat Bedha.
“Selain penyaluran bantuan sosial, kami juga memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh masyarakat atas dedikasi dan pengabdiannya bagi kemajuan Desa Adat Bedha,” kata Sunarta.
Dengan memadukan pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan kepedulian sosial, HUT ke-34 LPD Desa Adat Bedha diharapkan menjadi inspirasi bagi desa adat lainnya dalam menjaga identitas budaya sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat.***
