Jakarta, Batavia News – Perayaan Hari Ulang Tahun Jakarta ke-499 menjadi momentum penting untuk kembali melihat akar budaya yang membentuk identitas ibu kota. Di tengah pesatnya pembangunan dan modernisasi, budaya Betawi tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah dan kehidupan masyarakat Jakarta.
Budaya Betawi yang dikenal sebagai budaya masyarakat asli Jakarta ternyata memiliki keberagaman yang lahir dari proses percampuran berbagai etnis selama ratusan tahun. Unsur Melayu, Sunda, Jawa, Arab, Tionghoa hingga Eropa berpadu dan melahirkan karakter budaya yang khas di berbagai wilayah Jakarta.
Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi, M Rifqi atau yang akrab disapa Eki Pitung, menjelaskan bahwa masyarakat Betawi secara umum terbagi dalam tiga kelompok budaya, yakni Betawi Tengah, Betawi Pinggir, dan Betawi Pesisir.
Menurutnya, perjalanan sejarah Betawi telah dimulai jauh sebelum lahirnya Jakarta modern. Jejaknya dapat ditelusuri sejak masa Sunda Kelapa yang menjadi titik pertemuan berbagai suku dan bangsa. Proses akulturasi yang berlangsung berabad-abad kemudian membentuk identitas Betawi yang dikenal hingga saat ini.
Betawi Tengah berkembang di kawasan-kawasan lama Jakarta seperti Tanah Abang, Kampung Melayu, Jatinegara hingga Menteng. Wilayah ini dikenal memiliki pengaruh budaya Melayu yang kuat, terlihat dari bahasa, tradisi keagamaan hingga gaya berpakaian masyarakatnya.
Sementara itu, Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra menilai Betawi Tengah lebih dikenal masyarakat luas karena tumbuh di pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi Jakarta. Berbagai kesenian Betawi yang populer juga banyak lahir dari kawasan ini sehingga lebih sering muncul di ruang publik.
Di sisi lain, Betawi Pinggir berkembang di wilayah penyangga Jakarta seperti Tangerang, Depok, Bekasi dan Ciledug. Interaksi yang erat dengan masyarakat sekitar membuat dialek dan budayanya mendapat pengaruh kuat dari bahasa Sunda. Karakter masyarakatnya juga lekat dengan budaya jawara serta penggunaan pakaian pangsi dalam berbagai kegiatan tradisional.
Sedangkan Betawi Pesisir tumbuh di kawasan utara Jakarta seperti Marunda dan wilayah pantai lainnya. Kehidupan masyarakatnya banyak dipengaruhi aktivitas kelautan dan perdagangan hasil laut. Meski memiliki dialek yang berbeda, masyarakat Betawi Pesisir tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Betawi yang diwariskan turun-temurun.
Walaupun memiliki karakteristik yang berbeda, ketiga kelompok tersebut tetap memiliki akar budaya yang sama. Kesamaan itu tercermin dalam berbagai tradisi keluarga, kesenian hingga kuliner khas seperti gabus pucung, semur jengkol dan aneka hidangan Betawi lainnya.
Menjelang usia Jakarta yang akan mencapai 500 tahun pada 2027 mendatang, pelestarian budaya Betawi dinilai menjadi tantangan yang harus mendapat perhatian serius. Eki Pitung menegaskan bahwa pengembangan budaya tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial, tetapi juga harus didukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan serta keberlangsungan sanggar seni dan komunitas budaya.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih besar kepada generasi muda Betawi, termasuk melalui program beasiswa pendidikan tinggi sebagai upaya memperkuat kualitas SDM masyarakat Betawi di masa depan.
Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta mencatat jumlah masyarakat Betawi mencapai sekitar 2,7 juta jiwa atau sekitar 20 hingga 30 persen dari total penduduk Jakarta pada tahun 2025.
Karena itu, pembangunan Jakarta ke depan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan pelestarian budaya yang menjadi jati diri kota. Generasi muda pun diharapkan memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk mengenalkan budaya Betawi kepada masyarakat yang lebih luas.
Memasuki gerbang lima abad Jakarta, keberadaan Betawi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi budaya yang terus hidup dan berkembang bersama perjalanan ibu kota menuju kota global yang berbudaya.***Egi
