TANGERANG, BATAVIANEWS.co.id – Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tangerang menjalin kerja sama dengan Pokja Sinergi Sejuta Tangan Stop Stigma melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat pembinaan ramah anak dan menghapus stigma negatif terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.
Kesepakatan yang direalisasikan pada Senin (26/10/2026) tersebut melibatkan organisasi anak, perguruan tinggi, serta unsur Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan.
Kepala LPKA Kelas I Tangerang, Aldikan Nasution, menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, anak yang menjalani pembinaan harus memperoleh kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.
LPKA Kelas I Tangerang juga membekali warga binaan anak (WBA) melalui pendidikan formal dan nonformal, pelatihan keterampilan otomotif bersama Honda AHASS, peternakan unggas, serta kegiatan pertanian dan perkebunan. Pembinaan kepribadian, mental, dan spiritual turut menjadi bagian dari program tersebut.
Sementara itu, Naniek, salah satu penggerak program, menjelaskan bahwa kegiatan Kakak Mendengarkan telah berlangsung dalam lima kali pertemuan. Program ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk bercerita, menyampaikan perasaan, dan mendapatkan pendampingan.
Ia menilai pendampingan tersebut penting agar anak tidak merasa dikucilkan atau khawatir ditolak keluarga maupun lingkungan setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Dalam rangka memperluas edukasi publik, Aldikan bersama Pokja Sinergi Sejuta Tangan juga merencanakan program Farm Trip Goes to LPKA Kelas I Tangerang 2026. Kegiatan ini dirancang berlangsung selama 17 jam, mulai pukul 05.00 hingga 22.00, dengan melibatkan sekitar 50 pelajar SMP dan SMA/SMK negeri maupun swasta se-Kota Tangerang Selatan.
Kabid Kurikulum, Mukhlis, mendukung rencana tersebut. Menurutnya, kunjungan pelajar dapat menjadi sarana pembelajaran langsung untuk memahami proses pembinaan, menumbuhkan kepedulian sosial, serta mengurangi prasangka terhadap warga binaan anak.
Kerja sama ini diharapkan memperkuat sinergi antara lembaga pembinaan, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, dan perguruan tinggi dalam membangun lingkungan yang lebih inklusif.
Melalui pendekatan yang mengedepankan hak anak, pendidikan, keterampilan, dan dukungan psikososial, warga binaan anak diharapkan memiliki bekal yang lebih baik untuk kembali ke masyarakat tanpa dibayangi stigma masa lalu.***
