Seni Budaya

Chairil Gibran Ramadhan Soroti Sikap Tokoh Betawi terhadap Gerakan Literasi

JAKARTA, BATAVIA NEWS — Sastrawan dan budayawan Betawi asal Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Chairil Gibran Ramadhan (CGR), mengaku heran melihat sikap sejumlah pihak yang selama ini dikenal sebagai tokoh Betawi terhadap berbagai gerakan literasi dan kebudayaan.

Hal itu disampaikan CGR saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2026).

Menurut CGR, dukungan terhadap kegiatan literasi Betawi masih jauh dibandingkan perhatian yang diberikan terhadap kegiatan hiburan. Ia menilai, sejumlah tokoh Betawi yang memiliki posisi maupun pengaruh belum menunjukkan dukungan nyata terhadap gerakan literasi yang digagasnya.

“Seringkali saya heran pada perilaku para tuan dan nyonya yang disebut sebagai Tokoh Betawi dan ditokohkan oleh masyarakat Betawi,” ujar CGR.

Ia mencontohkan gerakan “Jual Buku untuk Cetak Buku”, yang digagas untuk mendukung rencana penerbitan karya Mona Lohanda mengenai sejarah politik bangsa Cina di Batavia. Menurut CGR, proyek penerbitan tersebut telah tertunda sejak 2012.

CGR menyebut dukungan justru datang dari sejumlah pihak yang menurutnya bukan berasal dari kalangan Betawi, di antaranya Prof. Dr. Pudentia MPSS, Dr. Bondan Kanumoyoso, Hendaru Tri Hanggoro, dan Yaprita Sirait, SH.

Sementara dari kalangan yang disebutnya memiliki keterkaitan dengan Betawi, CGR menyebut hanya Prof. Dr. Edi Sukardi, Ketua Pusat Studi Betawi UHAMKA, dan Idrus F. Shahab, mantan wartawan Majalah TEMPO, yang merespons gerakan tersebut.

“Ke mana para tokoh Betawi? Semua tidak ada yang memberi jawaban,” katanya.

CGR mengatakan dirinya memilih menjual buku-buku terbitan Penerbit Padasan yang dipimpinnya untuk membiayai gerakan literasi. Ia mengaku tidak ingin mengandalkan sumbangan maupun meminta belas kasihan pihak lain.

Sikap serupa, kata dia, dilakukan ketika berencana menerbitkan kembali Kembang Goyang, buku yang mengulas perjalanan Sastra Betawi selama satu abad dan memuat karya sejumlah sastrawan Betawi, termasuk Firman Muntaco, SM Ardan, dan M. Balfast.

Ia juga menyinggung skenario film layar lebar mengenai kehidupan Ismail Marzuki yang dikerjakannya secara mandiri sejak 2011 dan rampung pada 2017. Menurut CGR, hingga kini belum ada tokoh Betawi yang dinilainya membantu membuka akses kepada instansi pemerintah maupun swasta untuk mendukung pendanaan proyek tersebut.

Selain itu, CGR mengungkapkan kekecewaannya terkait upaya pencanangan “Mei Bulan Ismail Marzuki”. Dari sekitar 80 nama yang dimintai dukungan melalui petisi, menurut dia, kurang dari 10 tokoh Betawi yang bersedia berpartisipasi.

Meski menghadapi berbagai kendala, CGR menegaskan dirinya akan tetap menjalankan aktivitas kebudayaan dan literasi Betawi. Ia mengatakan perjuangan tersebut dilakukan untuk membawa karya dan identitas Betawi ke tingkat nasional hingga internasional.

Sekedar informasi CGR hingga kini belum pernah menerima Anugerah Budaya dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun dipercaya menjadi pengurus sejumlah lembaga kebudayaan Betawi dan Dewan Kesenian Jakarta.

Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti berkarya. Ia mengaku masih menemukan orang-orang yang bersedia membantu perjuangannya dalam mengembangkan literasi dan kebudayaan Betawi.

Menurut CGR, dukungan tersebut menjadi alasan baginya untuk terus bergerak meski harus menghadapi berbagai keterbatasan.***

Related posts

Betawi Kudu Go Internasional”, Kartun Putra Gara Gaungkan Budaya Betawi Mendunia

egi murad

Warisan Pattimura Didorong Menjadi Gerakan Nyata, Museum, Yayasan, dan Film Mulai Digagas

egi murad

Lebaran di Jakarta, Kumpulan Cerpen Sambut Lima Abad Jakarta

egi murad
Bahasa lain»