Seni Budaya

Budayawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan Soroti Penggunaan “Elu-Gue” di Forum Resmi

JAKARTA, BATAVIA NEWS — Penggunaan sapaan “elu-gue” atau “lu-gua” dalam komunikasi sehari-hari dinilai telah mengalami pergeseran konteks. Sastrawan sekaligus budayawan Betawi, Chairil Gibran Ramadhan (CGR), mengingatkan agar penggunaan bahasa tersebut tetap memperhatikan adab, usia lawan bicara, hubungan sosial, serta tempat dan situasi.

Chairil Gibran Ramadhan yang ditemui di kediamannya, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026), mengatakan istilah “elu-gue” atau “lu-gua” memang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan budaya populer Betawi dan Jakarta.

Menurutnya, sejumlah tokoh Betawi seperti Benyamin Sueb, Kasino Warkop DKI melalui karakter Sanwani, serta Dicky Zulkarnaen sebagai pemeran Si Pitung turut membawa budaya dan bahasa Betawi ke tingkat nasional sejak era 1970-an hingga 1980-an.

Popularitas budaya Betawi saat itu ikut membuat sapaan “elu-gue” atau “lu-gua” semakin dikenal luas. Bahkan, menurut CGR, sejumlah stasiun radio di Jakarta maupun daerah menggunakan istilah tersebut karena identik dengan Jakarta sebagai ibu kota.

“Sebagai orang Betawi, saya berterima kasih kepada tokoh-tokoh yang membawa Betawi ke tingkat nasional, salah satunya melalui penggunaan sebutan ‘elu-gue’ atau ‘lu-gua’. Pada era 1980-an, istilah itu kemudian banyak digunakan di radio-radio, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di daerah,” ujar CGR.

Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan “elu-gue” maupun “lu-gua” memiliki batasan dalam tata krama masyarakat Betawi.

Menurutnya, sapaan tersebut tidak tepat digunakan kepada semua orang dan dalam setiap situasi. Faktor usia, kedekatan hubungan, serta tempat dan suasana percakapan perlu menjadi pertimbangan.

Pandangan tersebut, kata CGR, telah dituangkannya dalam catatan budaya berjudul “Bahasa Diri Orang Betawi”, yang dimuat dalam bukunya Kembang Kelapa: Setangkle Catatan Budaya Betawi ~ Dari Batavia Sampai Jakarta yang diterbitkan Padasan pada 2016.

Buku tersebut, lanjutnya, hingga Juni 2026 telah mengalami cetak ulang sebanyak 11 kali.

Sorotan untuk Forum Resmi

CGR menegaskan, persoalan yang menjadi perhatiannya bukan penggunaan “elu-gue” dalam pergaulan nonformal. Menurutnya, sapaan tersebut masih wajar ditemukan dalam percakapan sehari-hari, siaran radio anak muda, maupun karya budaya populer.

Yang dinilai perlu mendapat perhatian adalah penggunaan bahasa tersebut dalam ruang-ruang resmi, termasuk acara kenegaraan, program televisi formal, serta komunikasi yang dilakukan pejabat publik.

“Secara adab dan etika, tidak pantas seorang menteri, wakil menteri, staf khusus, staf ahli menteri, bahkan presiden menggunakan ‘elu-gue’ atau ‘lu-gua’ di media massa dan acara kenegaraan. Dalam percakapan keseharian saja tidak pantas,” tegasnya.

CGR berharap penggunaan sapaan tersebut dapat kembali ditempatkan sesuai konteks sosial dan budaya. Ia menganggap tata bahasa dalam ruang publik perlu mencerminkan penghormatan terhadap lawan bicara dan kedudukan sebuah forum.

Alumnus IISIP Jakarta itu juga berharap nilai-nilai kesopanan dalam penggunaan bahasa publik kembali diperkuat, sebagaimana yang menurutnya lebih terlihat pada era 1970-an dan 1980-an.

CGR sendiri dikenal sebagai sastrawan dan budayawan Betawi asal Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Ia merupakan pendiri Betawi Institute, Poestaka Betawi, Penerbit Padasan, Padasan Pictures, sekaligus penggagas dan pemimpin redaksi Jurnal Stamboel (Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies).

Sejumlah karya bukunya juga telah menjadi koleksi Universiteit Leiden, Belanda. Ia tercatat sebagai sastrawan Betawi yang pernah menjadi redaktur sastra di Majalah Horison serta beberapa kali bekerja sama dengan Kerajaan Belanda dalam penerbitan genre Sastra Indisch***

Related posts

Mei Bulan Ismail Marzuki, Gerakan Budaya Nasional Resmi Dicetuskan di Jakarta

egi murad

Menbud Fadli Zon Siapkan Museum Film Pertama di Indonesia, Gedung Tua Kota Tua Jakarta Akan Direvitalisasi

egi murad

Misbach Yusa Biran dan Keajaiban Pasar Senen, Jejak Jakarta yang Kembali Dihidupkan

egi murad

Leave a Comment

Bahasa lain»