JAKARTA, BATAVIANEWS.co.id – Peneliti sejarah sosial, sastrawan, dan budayawan Betawi, Chairil Gibran Ramadhan (CGR), memutuskan tidak tampil sebagai narasumber dalam diskusi mengenai Ismail Marzuki di ajang Jakarta Biennale 2026. Keputusan tersebut diambil karena ia menilai perjalanan riset dan perjuangannya mengembangkan biografi layar lebar atau biopic sang komponis belum mendapatkan apresiasi yang semestinya.
Diskusi bertajuk Ismail Marzuki itu dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 15.00–17.00 WIB, di Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.
Berdasarkan informasi yang disampaikan CGR, acara tersebut menghadirkan peneliti asal Italia, Paola Pietronave, PhD, aktivis musik David Tarigan, serta CGR sebagai budayawan Betawi. Pembahasan akan berfokus pada rencana pembuatan film dokumenter berjudul Marzuki’s Violin karya Paola.
Namun, CGR mempertanyakan penempatan dirinya dalam forum tersebut, mengingat ia telah bertahun-tahun melakukan penelitian tentang Ismail Marzuki dan menyusun skenario biopic tokoh musik nasional tersebut.
Mengaku Memiliki Hak Tertulis dari Keluarga Ismail Marzuki
CGR menyebut dirinya memperoleh hak tertulis dari Rachmi Aziah, putri Ismail Marzuki. Ia juga menyatakan Rachmi terlibat sebagai konsultan skenario biopic yang disusunnya.
Pada 2017, menurut CGR, Rachmi memberikan amanah kepadanya untuk memperjuangkan pendirian Museum Ismail Marzuki, yang disebut telah dijanjikan sejak masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada 1997.
CGR mengaku tidak terkejut ketika mengetahui namanya ditempatkan sebagai salah satu narasumber dalam diskusi tersebut. Meski demikian, ia menyampaikan kritik terhadap cara sebagian masyarakat memandang kontribusi peneliti asing dibandingkan peneliti Indonesia.
“Orang Indonesia umumnya sangat kagum pada ras kulit putih. Apapun yang datang dari mereka dianggap selalu lebih, di atas segalanya,” ujar CGR dalam keterangannya.
Ia menilai apresiasi terhadap penelitian dan karya kebudayaan semestinya diberikan berdasarkan kualitas, rekam jejak, serta kontribusi nyata, bukan semata-mata asal negara seseorang.
Riset Biopic Dilakukan Sejak 2011
CGR menjelaskan, dirinya melakukan penelitian tentang Ismail Marzuki secara mandiri dengan biaya sendiri sejak 2011 hingga 2017 untuk mendukung penulisan skenario biopic.
Skenario tersebut rampung pada 2018 dengan pendampingan Enison Sinaro, sutradara film senior, dan Laora Arkeman, penulis, yang bertindak sebagai supervisor dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Naskah itu kemudian dibukukan pada 2020 dengan ISBN 978-602-1244-03-6.
Sebelumnya, pada 2019, CGR mengaku telah mengajukan pendanaan pembuatan film dokumenter Ismail Marzuki kepada Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Namun, setelah melalui proses pengajuan, ia mendapat informasi bahwa persyaratan formal yang dimilikinya dinilai belum mencukupi.
Pada 2025, Iwan Piliang dari Pusat Perfilman Negara (PPFN), menurut CGR, membuka peluang untuk merealisasikan biopic Ismail Marzuki. Namun, pihak Padasan Pictures disebut perlu mencari lembaga pendanaan karena Danantara tidak dapat turut berperan dalam proyek tersebut.
Pencanangan Mei Bulan Ismail Marzuki
CGR tetap berupaya mendorong agar proyek biopic tersebut mendapat perhatian pemerintah. Pada 12 Mei 2026, ia menggelar pencanangan gerakan Mei Bulan Ismail Marzuki di markas Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Pendiri MURI, Jaya Suprana, disebut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Neno Warisman, yang menurut CGR merupakan tenaga ahli Kementerian Kebudayaan, turut hadir sebagai pembicara.
Melalui kegiatan itu, CGR berharap pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan, memberikan perhatian terhadap skenario biopic yang telah ia susun beserta upayanya mengangkat perjalanan hidup dan karya Ismail Marzuki.
Kecewa dengan Penghargaan terhadap Karyanya
CGR menilai penyelenggaraan Jakarta Biennale yang didukung Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) belum memberikan ruang yang sepadan bagi kerja panjangnya dalam meneliti Ismail Marzuki.
Ia juga menyayangkan persoalan honorarium pembicara yang, menurut pengakuannya, hanya berupa penggantian biaya transportasi dalam jumlah terbatas
“Kita cuma bisa ganti ongkos transport, itu pun tidak seberapa,” demikian pernyataan panitia yang dikutip CGR mengenai honorarium pembicara.
Bagi CGR, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai honorarium atau kesempatan tampil dalam sebuah acara bergengsi. Ia menilai persoalan yang lebih mendasar adalah penghargaan terhadap proses penelitian, penulisan, dan perjuangan panjang untuk mengangkat tokoh kebudayaan Indonesia.
Atas pertimbangan itu, CGR memilih tidak memenuhi undangan sebagai narasumber dalam diskusi tersebut
.Ia menegaskan tidak lagi mengejar popularitas melalui nama besar acara maupun tempat penyelenggaraan. Baginya, perjuangan mengangkat Ismail Marzuki seharusnya berorientasi pada pengakuan terhadap karya, pelestarian sejarah, dan terwujudnya film biopic yang telah lama diupayakan.***(BN)
