JAKARTA, BATAVIANEWS.co.id – Betawi Institute mencanangkan gerakan “Bela Betawi Liwat Literasi” dalam rangka menyambut Bulan Bahasa Oktober 2026.
Gerakan tersebut digagas sebagai upaya memperkuat kembali tradisi tulisan masyarakat Betawi sekaligus mendorong pendokumentasian sejarah, sastra, dan kebudayaan Betawi, Batavia, serta Jakarta melalui karya-karya literasi.
Selama ini, budaya Betawi lebih banyak dikenal melalui tradisi lisan dan seni pertunjukan, seperti teater tradisional, pantun dalam palang pintu, gambang kromong, silat, kuliner hingga berbagai bentuk kesenian yang hadir dalam acara masyarakat.
Padahal, Betawi juga memiliki sejarah panjang dalam tradisi tulisan. Sejumlah nama seperti Sapirin bin Usman al-Fadli, Muhammad Bakir, Ahmad Beramka, Abdullah bin Muhammad al-Misri, Muhammad Balfas, SM Ardan, Firman Muntaco hingga sejumlah penulis generasi berikutnya turut mewarnai khazanah sastra Betawi dan Indonesia.
Pendiri Betawi Institute dan Poestaka Betawi, Chairil Gibran Ramadhan (CGR), mengatakan gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya mengangkat literasi sebagai sarana menjaga harkat dan martabat kebudayaan Betawi.
“Bela Betawi juga artinya membela harkat dan martabat Betawi melalui literasi. Literasi jangan diartikan sebatas membaca puisi di panggung keriaan. Sejarah dan budaya Betawi, Batavia, Jakarta perlu dikenali melalui tulisan dan didokumentasikan dalam bentuk buku,” ujar CGR.
Menurutnya, buku memiliki peran penting dalam menjaga ingatan sejarah karena dapat melampaui ruang dan waktu.
Melalui gerakan tersebut, Betawi Institute berencana memfasilitasi penerbitan lima buku bertema sejarah, sastra dan budaya Betawi, Batavia serta Jakarta pada 2027, bertepatan dengan momentum peringatan lima abad Jakarta.
Lima buku yang direncanakan antara lain “Seribu Tokoh Betawi: Jakarta dan Sekenanya”, “Hikayat Pesastra: Jakarta dan Sekenanya”, “Bang Jali Kondangan: Setangkle Sketsa Humor Betawi” karya Aba Mardjani, “Keadjaiban di Pasar Senen: Sekumpulan Ceritera di Jakarta 1950-1960” karya Misbach Yusa Biran, serta “Dajoeng Sampan Dibawah Boelan” karya Chairil Gibran Ramadhan.
CGR berharap karya-karya tersebut nantinya tidak hanya beredar di kalangan masyarakat Betawi, tetapi juga menjadi bagian dari koleksi kampus, instansi pemerintah, komunitas baca hingga perwakilan diplomatik yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Ia menilai penguatan literasi diperlukan untuk menghadirkan perspektif yang lebih luas mengenai identitas Betawi. Menurutnya, kebudayaan Betawi tidak semestinya hanya dipahami dari sisi kesenian dan tradisi lisan.
“Buku menguasai ruang dan waktu. Scripta manent, verba volant. Apa yang ditulis akan meninggalkan jejak. Insya Allah yang kami lakukan ini berguna bagi Betawi dan Indonesia,” kata CGR.
CGR juga menyampaikan bahwa gerakan literasi Betawi membutuhkan dukungan lebih luas, termasuk dari tokoh masyarakat, akademisi, pelaku budaya, pemerintah maupun pihak swasta.
Ia berharap muncul lebih banyak pihak yang bersedia menjadi fasilitator penerbitan buku, sayembara menulis, penghargaan bagi penulis serta berbagai kegiatan yang mendorong lahirnya karya-karya tentang Betawi.
“Harapannya ada tokoh Betawi yang ikut menjadi fasilitator gerakan literasi, seperti tokoh-tokoh yang selama ini dikenal mendorong penerbitan buku, sayembara menulis dan penghargaan bagi para penulis,” ujarnya.
Gerakan “Bela Betawi Liwat Literasi” diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat dokumentasi sejarah dan kebudayaan Betawi sehingga warisan intelektual masyarakat Betawi tidak hanya tersimpan dalam tradisi lisan, tetapi juga terdokumentasi secara tertulis dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.***
