JAKARTA, BATAVIA NEWS – Upaya menjaga warisan literasi dan kebudayaan Betawi kembali digerakkan. Bertepatan dengan Hari Radio sekaligus HUT ke-81 Radio Republik Indonesia (RRI), Poestaka Betawi resmi dinyatakan berdiri di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Jumat (11/9/2026).
Poestaka Betawi digagas dan kembali dihidupkan oleh sastrawan sekaligus budayawan Betawi asal Pondok Pinang, Chairil Gibran Ramadhan (CGR). Langkah tersebut dilandasi kepedulian terhadap keberadaan buku-buku yang merekam sejarah, budaya, serta kehidupan masyarakat Betawi, Batavia, dan Jakarta.
CGR menyebut pendirian Poestaka Betawi merupakan kelanjutan dari upaya yang sebelumnya dilakukan almarhum Rachmad Sadeli, wartawan grup Kompas Gramedia untuk Tabloid Otomotif, yang mendirikan Pustaka Betawi pada 2015.
Rachmad Sadeli, yang akrab disapa Mamat, meninggal dunia pada 21 Juli 2021. Setelah kepergiannya, koleksi buku Pustaka Betawi sempat diserahkan istrinya, Ifo Indriati, kepada Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB).
Penyerahan tersebut dilakukan karena Ifo merasa tidak mampu mengelola koleksi yang membutuhkan perhatian secara khusus. Koleksi itu diharapkan tetap terawat, bermanfaat bagi masyarakat, dan dikelola oleh pihak yang memiliki kompetensi.
Menurut akademisi Betawi, Roni Adi, karena keterbatasan tempat yang representatif di kantor LKB, koleksi tersebut kemudian dialihkan kepada pengelola Museum Betawi di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan.
Namun, perjalanan koleksi itu kemudian menghadapi persoalan. Buku-buku yang semestinya menjadi bagian penting dari dokumentasi literasi Betawi tersebut disebut mengalami kehilangan secara bertahap.
Kondisi itu menjadi salah satu perhatian dalam upaya menghidupkan kembali semangat Pustaka Betawi.
Bagi CGR, keberadaan buku-buku mengenai Betawi bukan sekadar persoalan koleksi. Buku-buku tersebut merupakan bagian dari jejak pengetahuan dan rekam kebudayaan yang penting untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, ia memutuskan melanjutkan langkah yang pernah dirintis Mamat, dengan menggunakan nama Poestaka Betawi, yakni menggunakan ejaan lama.
Penggunaan nama tersebut terlebih dahulu dikonsultasikan kepada keluarga almarhum Rachmad Sadeli. Dengan bantuan Fifi Firman Muntaco, putri sulung maestro sketsa humor Betawi Firman Muntaco, CGR menyampaikan permohonan izin kepada Ifo Indriati.Permohonan itu mendapat respons positif dari Ifo.
“Alhamdulillah ada yang meneruskan Pustaka Betawi almarhum suami saya. Insyaallah berkah untuk Bang CGR dan semua penggerak Poestaka Betawi,” ujar Ifo di kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan.
CGR sendiri selama ini dikenal sebagai sastrawan dan budayawan Betawi. Ia tercatat pernah menjadi anggota redaksi Majalah Sastra Horison. Ia juga pernah memperjuangkan gagasan Duit Betawi, konsep uang nasional dengan nuansa Betawi, dalam rentang 2000–2016.
Berawal dari Koleksi Pribadi
Seperti halnya koleksi yang dahulu dihimpun Mamat, bahan bacaan Poestaka Betawi juga berawal dari koleksi pribadi yang kemudian diperkuat melalui sumbangan dari sahabat maupun pihak lain yang memiliki perhatian terhadap literasi Betawi, Batavia, dan Jakarta.
Bagi CGR, membangun kembali Poestaka Betawi bukan sekadar mendirikan tempat menyimpan buku. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan ikhtiar agar pengetahuan mengenai Betawi tidak terputus dan tetap dapat diakses serta diwariskan.
Ia menilai keberadaan literasi kebudayaan memiliki peran penting dalam menjaga identitas masyarakat di tengah perubahan zaman.
“Manusia hidup harus ada guna bagi orang lain, tidak hanya asyik dengan diri sendiri dan keluarga,” kata CGR.
Dengan berdirinya kembali Poestaka Betawi, CGR berharap gerakan tersebut dapat menjadi ruang untuk menghimpun, merawat, dan menyelamatkan buku-buku bertema Betawi, Batavia, serta Jakarta agar tidak kembali hilang dan terlupakan.***
