BANDUNG, BATAVIA NEWS — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong perubahan sistem pertanian di Jawa Barat menuju pola organik secara bertahap. Di sisi lain, ia meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran Tramadol yang dinilai mulai mengancam masyarakat hingga ke pelosok desa.
Dedi menyampaikan hal tersebut dalam amanat upacara peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Sate, Bandung. Menurutnya, penggunaan pupuk kimia dan pestisida perlu dikurangi secara bertahap agar kualitas tanah, air, pangan, serta kesehatan masyarakat dapat lebih terjaga.
Ia meminta Dinas Pertanian Jawa Barat mulai menggarap perubahan tersebut secara bertahap, dari satu petak sawah ke petak lainnya.
Dedi menilai pertanian organik bukan hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian. Produk pangan dengan standar yang lebih baik diharapkan mampu memiliki daya saing lebih kuat di pasar internasional.
Selain persoalan pertanian, Dedi menyoroti peredaran Tramadol di lingkungan pedesaan. Ia menyebut peredaran obat tersebut sebagai bentuk ancaman yang tidak terlihat dan perlu mendapat perhatian serius.
Menurut Dedi, pemberantasan peredaran Tramadol tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Pemerintah daerah, masyarakat, tokoh masyarakat hingga perangkat desa dinilai perlu bergerak bersama untuk mencegah obat terlarang tersebut merusak generasi muda.
“Di sudut-sudut kampung Tramadol itu dijual secara bebas dan kita membiarkannya. Ini adalah kewaspadaan nasional yang harus bersama-sama dibersihkan,” tegasnya.
Peringatan HUT ke-81 RI tingkat Jawa Barat dipusatkan di kawasan Gedung Sate. Rangkaian kegiatan diisi dengan kirab bendera Merah Putih, upacara pengibaran dan penurunan bendera, serta defile pasukan gabungan.
Perayaan kemerdekaan tersebut juga diramaikan dengan sajian makanan dan minuman dari pelaku UMKM. Pemprov Jawa Barat menyiapkan hidangan untuk sekitar 10 ribu orang yang hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut.***
