Seni Budaya

Misbach Yusa Biran dan Keajaiban Pasar Senen, Jejak Jakarta yang Kembali Dihidupkan

JAKARTA, BATAVIA NEWS — Nama Misbach Yusa Biran tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah sosial dan kebudayaan Jakarta. Sastrawan, wartawan, pekerja film dan teater sekaligus pendiri Sinematek Indonesia itu meninggalkan catatan penting mengenai kehidupan masyarakat Jakarta, khususnya kawasan Pasar Senen pada era 1950-an hingga 1970an.

Misbach Yusa Biran lahir pada 22 September 1932 dan meninggal dunia pada 11 April 2012. Meskipun memiliki darah Minang dari sang ayah dan Banten dari ibunya, sebagian besar perjalanan hidupnya berlangsung di lingkungan masyarakat Betawi dan Jakarta.

Jejak kehidupan Jakarta yang direkam Misbach salah satunya terangkum dalam dua karya yang kemudian dikenal luas, yakni Keadjaiban di Pasar Senen yang diterbitkan Pustaka Jaya pada 1972 dan …Oh, Film yang terbit setahun kemudian.

Kedua buku tersebut tidak sekadar menghadirkan cerita mengenai dunia seniman dan perfilman. Di dalamnya terdapat gambaran kehidupan Jakarta, terutama kawasan Senen, pada masa Orde Lama hingga memasuki Orde Baru.

Keaslian suasana zaman juga menjadi bagian penting dari karya tersebut. Edisi Keadjaiban di Pasar Senen mempertahankan penggunaan Ejaan Suwandhi, sementara …Oh, Film menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan.

Sejumlah kalangan menilai karya Misbach memiliki nilai penting sebagai dokumentasi sosial sekaligus bagian dari perjalanan kesusastraan Indonesia.

Obsesi Chairil Gibran Ramadhan

Karya Misbach Yusa Biran kemudian menarik perhatian sastrawan dan budayawan Betawi asal Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Chairil Gibran Ramadhan atau CGR.

CGR dikenal memiliki perhatian besar terhadap sejarah dan kebudayaan Betawi, Batavia, serta Jakarta. Dua buku Misbach tersebut bahkan menjadi salah satu sumber yang terus dipelajarinya.

Ketertarikan itu kemudian dituangkan CGR dalam karya sastra. Ia mengolah sejumlah catatan dari kedua buku tersebut menjadi cerpen berjudul Miracolo a Senen Raja.

Cerpen tersebut dimuat dalam majalah sastra Horison edisi Oktober 2013 dan kemudian masuk dalam buku cerpen tunggal CGR bertema sejarah-budaya Betawi, Batavia dan Jakarta, Djali-Djali Bintang Kedjora, yang diterbitkan Padasan pada 2026.

Cerita tersebut menggambarkan kehidupan Seniman Senen pada penghujung dekade 1950-an. Beberapa nama yang berkaitan dengan dunia tersebut hadir dalam cerita, termasuk Misbach Yusa Biran dan SM Ardan.

Kedekatan penggambaran suasana Senen dalam cerpen itu bahkan mendapat perhatian Nani Wijaya, istri Misbach Yusa Biran.

Saat menerima kiriman majalah Horison dari CGR, Nani disebut sempat berbincang melalui telepon dan mengapresiasi kemampuan CGR dalam membangun cerita mengenai lingkungan yang pernah dijalani suaminya.

Impian Menerbitkan Kembali Keadjaiban di Pasar Senen

Ketertarikan CGR terhadap karya Misbach tidak berhenti pada penulisan cerpen. Ia kemudian menjadikan penerbitan ulang Keadjaiban di Pasar Senen sebagai salah satu proyek yang ingin diwujudkannya melalui Penerbit Padasan.

CGR memperoleh hak untuk menerbitkan kembali buku tersebut dari Nani Wijaya. Bahkan, nomor ISBN dan barcode dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah diperoleh pada 2014 dengan nomor 978-602-1244-01-2.

Rencana awalnya, buku tersebut diterbitkan pada September 2015, bertepatan dengan momentum ulang tahun Misbach Yusa Biran.

Namun, rencana itu menghadapi berbagai kendala, antara lain persoalan pembiayaan dan kerusakan komputer yang menghambat proses penerbitan.

Kini, gagasan tersebut kembali dihidupkan.

Dalam rangka memperingati Lima Abad Jakarta pada 2027, CGR menggandeng Farry Hanief Yusa Biran, anak kelima dari enam bersaudara Misbach Yusa Biran.

Farry saat ini menjabat sebagai kepala Sinematek Indonesia, lembaga arsip film yang didirikan dan dikembangkan oleh ayahnya.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mewujudkan kembali penerbitan karya yang menjadi bagian penting dari perjalanan sastra sekaligus dokumentasi sosial Jakarta.

Bagi upaya pelestarian sejarah kota, Keadjaiban di Pasar Senen tidak hanya dipandang sebagai buku sastra. Karya tersebut juga menjadi rekaman kehidupan masyarakat, seniman, dan dunia film yang pernah tumbuh di kawasan Senen.

Penerbitan kembali buku tersebut diharapkan dapat membawa kembali atmosfer Jakarta masa lalu kepada pembaca generasi sekarang, sekaligus memperkaya dokumentasi perjalanan ibu kota menjelang momentum Lima Abad Jakarta.

Selamat ulang tahun, Pak Misbach Yusa Biran. Jejak yang ditinggalkan melalui tulisan, film, dan Sinematek Indonesia terus menjadi bagian dari ingatan panjang Jakarta.***

Related posts

Betawi Kudu Go Internasional”, Kartun Putra Gara Gaungkan Budaya Betawi Mendunia

egi murad

Menbud Fadli Zon Siapkan Museum Film Pertama di Indonesia, Gedung Tua Kota Tua Jakarta Akan Direvitalisasi

egi murad

Rano Karno Diusulkan Beri Apresiasi Buku Sastra Betawi 100 Tahun, Jadi Momentum Sambut Jakarta 500 Tahun

egi murad

Leave a Comment

Bahasa lain»