Bali

30 Tahun Mengajar Selancar di Kuta, Kisah Bob Bertahan dari Bakso hingga Ombak Besar

BALI, BATAVIA NEWS — Dalam wawancara dengan Batavia News pada 14 Juli 2026, Bob, instruktur selancar asal Lumajang, menceritakan perjalanan hidupnya selama sekitar tiga dekade di Bali.

Pria asal Lumajang, Jawa Timur, itu merantau ke Bali sejak berusia 16 tahun. Namun, kedatangannya ke Pulau Dewata bukan untuk menjadi instruktur selancar seperti profesinya sekarang.

Bob awalnya datang untuk mencari pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidup. Ia bahkan sempat menjalani profesi sebagai penjual bakso sebelum kemudian mengenal dunia selancar.

Dalam wawancara dengan Batavia News pada 14 Juli 2026, Bob menceritakan perjalanan hidupnya hingga akhirnya bertahan selama puluhan tahun sebagai instruktur selancar di Pantai Kuta.

“Awalnya bukan guru selancar. Dulu saya jualan bakso,” kata Bob.

Perjalanan menjadi instruktur selancar tidak berlangsung secara instan. Bob membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kehidupan di Bali. Ia juga mulai mempelajari bahasa asing agar dapat berkomunikasi dengan wisatawan.

Bersamaan dengan itu, Bob belajar berselancar secara mandiri. Sekitar satu tahun dijalaninya untuk mempelajari bahasa sekaligus mengasah kemampuan berselancar.

Kemampuan tersebut kemudian membuka jalan baru. Bob mulai mengajarkan selancar kepada wisatawan yang datang ke Pantai Kuta.


Dari Wisatawan Jepang hingga Korea Selatan dan China

Selama menjalani profesinya, Bob menyaksikan perubahan karakter wisatawan yang datang ke Kuta.

Pada masa awal dirinya menjadi instruktur, wisatawan asal Jepang menjadi salah satu kelompok wisatawan yang paling banyak menggunakan jasanya.

“Dulu tamunya banyak Jepang,” ujar Bob mengenang masa tersebut.

Seiring waktu, kondisi tersebut berubah. Bob mengatakan wisatawan asal Korea Selatan kini lebih sering menggunakan jasanya. Wisatawan asal China juga mulai banyak belajar selancar di Kuta.

Perubahan itu menjadi bagian dari dinamika pariwisata Bali yang terus bergerak mengikuti perkembangan pasar wisata internasional.

Namun, bukan hanya karakter wisatawan yang berubah. Bob juga melihat langsung perubahan kondisi Pantai Kuta dari masa ke masa.

“Dulu ramai sekali. Pantainya masih bagus dan bersih,” katanya.

Bagi Bob, kebersihan pantai menjadi bagian penting dalam mempertahankan kenyamanan wisatawan sekaligus daya tarik Kuta.

Ombak Besar dan Tantangan Menjadi Instruktur

Mengajarkan selancar kepada wisatawan juga bukan pekerjaan tanpa risiko. Kondisi laut dapat berubah dan menghadirkan tantangan berbeda bagi seorang instruktur.

Bob mengatakan ombak kecil relatif lebih mudah digunakan untuk mengajarkan selancar kepada pemula. Persoalan menjadi berbeda ketika ombak mulai membesar.

“Kalau ombaknya besar, itu baru agak sulit,” ungkap Bob.

Arus laut yang kuat membuat instruktur harus mampu membaca kondisi perairan. Kemampuan berenang dan memahami karakter ombak menjadi bagian penting dari pekerjaan tersebut.

Pengalaman Bob selama berada di laut juga membuatnya beberapa kali membantu wisatawan dalam situasi darurat. Ia bahkan pernah membantu petugas penjaga pantai atau lifeguard.

“Kalau ada orang tenggelam, kita harus bantu,” katanya.

Bagi seorang instruktur, kemampuan mengajarkan teknik selancar bukan satu-satunya hal yang diperlukan. Keselamatan wisatawan menjadi bagian penting dalam setiap aktivitas di laut.

Mengikuti Perjalanan Selancar hingga Lombok dan Sumbawa

Pengalaman Bob tidak hanya berlangsung di Pantai Kuta.

Ia pernah mengikuti perjalanan selancar bersama rombongan wisatawan hingga Lombok dan Sumbawa. Dalam perjalanan tersebut, ia juga menyambangi kawasan Gili.

Perjalanan berlangsung sekitar satu pekan dengan rombongan yang biasanya berjumlah delapan hingga 10 wisatawan.

Mereka menyewa kapal untuk menjelajahi sejumlah lokasi selancar.

Perjalanan tersebut bukan kompetisi selancar profesional. Kegiatan lebih banyak berupa perjalanan wisata sekaligus menikmati berbagai lokasi surfing.

Pengalaman itu membuat Bob melihat langsung bahwa Indonesia memiliki banyak kawasan yang berpotensi menjadi tujuan wisata selancar.

Setiap daerah memiliki karakter ombak dan daya tarik tersendiri.

Pandemi Membuat Bob Beralih Pekerjaan

Salah satu periode paling berat dalam perjalanan Bob terjadi ketika pandemi Covid-19 melanda.

Aktivitas pariwisata berhenti. Pantai Kuta ditutup dan wisatawan tidak lagi berdatangan seperti sebelumnya. Penutupan bandara juga membuat kondisi pariwisata Bali semakin terpuruk.

Kondisi tersebut secara langsung memukul pendapatan Bob sebagai instruktur selancar.

“Kalau itu hancur kayaknya,” ujar Bob menggambarkan kondisi saat pandemi.

Bob kemudian memilih mencari sumber penghasilan lain. Ia membeli kendaraan pikap dan bekerja sebagai pengemudi GoBox.

Selama sekitar dua tahun, pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilannya ketika sektor pariwisata belum kembali normal.Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana pekerja informal yang menggantungkan penghasilan dari pariwisata ikut merasakan dampak besar ketika aktivitas wisata terhenti.

Kuta Tetap Menjadi Pilihan untuk Belajar Selancar

Meski telah melewati berbagai perubahan, Bob masih melihat Pantai Kuta memiliki daya tarik sebagai lokasi belajar selancar.

Menurutnya, karakter pantai dengan dasar pasir membuat Kuta cukup cocok bagi wisatawan yang baru mulai belajar.

“Kalau belajar, di Pantai Kuta bagus,” kata Bob.

Ia berharap aktivitas pariwisata di Kuta kembali semakin ramai.

“Harapannya lebih ramai lagi dibanding sekarang,” ujar Bob.

Harapan tersebut tentu tidak hanya berkaitan dengan jumlah wisatawan. Bagi pekerja seperti Bob, meningkatnya kunjungan wisata berarti terbukanya kembali peluang ekonomi.

Namun, peningkatan kunjungan juga perlu berjalan seiring dengan pengelolaan destinasi yang baik.

Kebersihan pantai, kenyamanan wisatawan dan keselamatan aktivitas bahari menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan pariwisata.


Tiga Dekade Menjadi Bagian dari Kuta

Perjalanan Bob di Bali memperlihatkan bagaimana seseorang dapat tumbuh bersama industri pariwisata.

Datang sebagai perantau berusia 16 tahun, Bob pernah bertahan hidup dengan berjualan bakso. Ia kemudian mempelajari bahasa asing, belajar berselancar dan akhirnya menjadikan surfing sebagai sumber penghidupan.

Selama sekitar 30 tahun, ia bukan hanya menjadi instruktur selancar. Bob juga menjadi saksi perubahan Pantai Kuta, dari perubahan karakter wisatawan hingga masa sulit ketika pandemi melumpuhkan pariwisata Bali.

Kisah Bob merupakan potret kecil kehidupan pekerja lokal yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata.

Di tengah perubahan zaman, ia tetap bertahan bersama ombak Kuta.***


Related posts

Disdikpora Bali Soroti Peran Kepala Sekolah dalam Polemik Twibbon MPLS SMK PGRI 5 Denpasar

egi murad

Damkar Bangli Kekurangan Armada, Penanganan Kebakaran Besar Masih Bergantung Bantuan Daerah Tetangga

egi murad

DPRD Bali Ajak Desa Adat dan Pecalang Perkuat Sinergi Tekan Kriminalitas

egi murad

Leave a Comment

Bahasa lain»