Lifestyle

Rumah Bersama Marcilea, Dua Dekade Memanusiakan ODGJ dan Warga Terlantar di Tangsel

PAMULANG BATAVIANEWS.CO.ID — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, masih ada orang-orang yang hidup tanpa keluarga, kehilangan tempat tinggal, bahkan harus bertahan di emperan toko dan sudut-sudut jalan. Di saat sebagian besar masyarakat memilih berlalu, Marcilea justru memilih berhenti dan membantu.

Selama lebih dari dua dekade, perempuan asal Batak itu konsisten merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), lanjut usia (lansia), serta warga terlantar di wilayah Tangerang Selatan, Banten.

Dengan kemampuan yang serba terbatas, Marcilea memulai langkahnya dari hal sederhana. Ia membawa orang-orang terlantar ke fasilitas kesehatan, membantu membersihkan tubuh mereka, memastikan kondisi kesehatan mereka diperiksa, kemudian memberikan tempat tinggal dan perawatan di Rumah Bersama Marcilea.

Baginya, mereka bukan sekadar orang terlantar.

“Mereka ini sama seperti kita. Mereka juga makhluk Tuhan yang mulia dan memiliki hak yang sama, meskipun sebagian sudah kehilangan kewarasannya,” ujar Marcilea.

Niat tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan sosial yang terus ia jalankan hingga lebih dari 20 tahun. Berbagai cibiran, cacian, hingga anggapan bahwa apa yang dilakukannya sia-sia tak membuatnya berhenti.

Justru kondisi tersebut semakin menguatkan tekad Marcilea untuk terus membantu.

Rumah Sederhana, Puluhan Orang Silih Berganti

Rumah Bersama Marcilea yang berada di kawasan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, berdiri di sebuah rumah tipe 70. Meski tidak besar, tempat tersebut menjadi persinggahan bagi mereka yang membutuhkan.

Saat BATAVIA NEWS berkunjung atas undangan Marcilea, sekitar 15 orang ODGJ dan warga terlantar berada di rumah tersebut.

Menariknya, sejumlah penghuni yang kondisinya telah membaik mulai kembali menjalani kehidupan sosial. Bahkan, beberapa di antaranya diberdayakan oleh pengurus lingkungan setempat untuk membantu pekerjaan kebersihan dan kegiatan lainnya.

Mereka juga memperoleh upah atas pekerjaan yang dilakukan.

“Di sini sudah ratusan orang yang kami rawat sampai akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Kami memperlakukan mereka secara bermartabat. Seperti yang Anda lihat, mereka sangat ramah dan bisa diajak berbicara seperti orang pada umumnya,” kata Marcilea.

Edo dan Tomo, Kisah di Balik Rumah Bersama

Di antara penghuni yang ditemui BATAVIA NEWS terdapat Edo dan Tomo. Keduanya merupakan contoh bahwa seseorang yang pernah mengalami gangguan kejiwaan tetap memiliki kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara normal.

Edo, yang merupakan lulusan SMAN 1 Boedi Oetomo Jakarta, sempat mengalami gangguan kejiwaan hingga meninggalkan rumah. Ia kemudian ditemukan dan dibawa Marcilea ke Rumah Bersama untuk mendapatkan pendampingan.

Kini kondisinya telah membaik dan Edo bersiap kembali kepada keluarganya.

“Saya lulusan SMAN 1 Boedi Oetomo Jakarta, Pak. Dulu bapak saya pejabat,” tutur Edo.

Sementara Tomo juga mengaku telah memiliki rencana setelah kondisinya pulih. Ia ingin kembali bekerja, membangun usaha dan memiliki keluarga.

“Saya ingin punya usaha kuliner, Pak. Ingin berumah tangga juga,” ujar Tomo.

Kisah keduanya menjadi gambaran bahwa pendampingan dan perlakuan manusiawi dapat membuka kembali harapan bagi orang-orang yang sebelumnya terpinggirkan.

Marcilea: Ini Panggilan Tuhan

Selama sekitar 20 tahun menjalankan kegiatan tersebut, Marcilea mengatakan sudah banyak orang yang dibantu dan sebagian berhasil kembali berkumpul dengan keluarga masing-masing.

Ia mengaku tidak pernah menganggap kegiatan tersebut sebagai beban.

“Saya tidak pernah lelah, apalagi kapok. Saya menyayangi mereka. Saya libatkan hati saya yang tidak pernah letih untuk membantu sebisa yang saya lakukan,” katanya.

“Bagi saya, membantu mereka adalah panggilan Tuhan. Saya yakin ini adalah karma baik buat saya,” lanjut Marcilea.

Rumah sederhana itu akhirnya bukan hanya menjadi tempat tinggal sementara. Bagi sebagian orang, Rumah Bersama Marcilea menjadi tempat untuk kembali menemukan rasa dihargai, dirawat dan dianggap sebagai manusia.

Berharap Pemerintah Tangsel Hadir

Di balik perjuangannya, Marcilea juga menyampaikan harapan kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan agar persoalan ODGJ dan warga terlantar mendapat penanganan yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya membawa mereka dari jalanan untuk kemudian dilepas kembali setelah beberapa hari.

“Saya sangat berharap kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan agar mulai membuka mata hati dan melakukan tindakan nyata menangani ODGJ dan orang terlantar di wilayahnya,” ujar Marcilea.

Ia mendorong pemerintah menyediakan rumah singgah dan sistem pendampingan yang memungkinkan mereka mendapatkan perawatan serta pembinaan secara berkelanjutan.

“Kalau perlu, gunakan dana pribadi untuk persoalan ini. Dirikan rumah-rumah singgah untuk mereka, bukan hanya ditangani sebatas 14 hari lalu dilepaskan lagi,” katanya.

“Mulailah memanusiakan mereka, karena mereka adalah manusia, sama seperti kita,” pungkas Marcilea.

Kisah Rumah Bersama Marcilea menjadi potret kepedulian warga terhadap kelompok masyarakat yang kerap luput dari perhatian. Selama dua dekade, rumah sederhana itu terus menjadi tempat persinggahan bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan.***(Agus Firmansyah)

Related posts

Membaca Arah Ekspansi Mazda: Menakar Potensi Pasar Premium di Gerbang Mandalika

batavia

Pendaftaran Polytron Fest 51 Dibuka, Siap Ramaikan GBK dengan Fun Run hingga Festival Keluarga

egi murad

Yoga with a View, Vasaka Hotel Jakarta Ajak Warga Rehat Sejenak Sambil Menikmati Panorama Ibu Kota

egi murad

Leave a Comment

Bahasa lain»