Jakarta, Batavia News – Film horor Korea Selatan berjudul “Taboo: The Silent Day” atau “Nyepi” menjadi perhatian publik setelah trailer resminya menampilkan suasana Hari Raya Nyepi di Bali sebagai latar utama cerita. Kehadiran film ini tidak hanya menarik perhatian pecinta film horor, tetapi juga memicu perbincangan mengenai bagaimana budaya Indonesia diangkat oleh industri perfilman luar negeri.
Film garapan sutradara Park Kyung-kun tersebut mengisahkan sekelompok wisatawan asal Korea Selatan yang tengah berlibur di Bali saat pelaksanaan Nyepi. Dalam alur cerita yang ditampilkan melalui trailer, para wisatawan itu mengalami berbagai kejadian mencekam setelah melanggar sejumlah aturan dan pantangan yang berlaku selama hari suci umat Hindu tersebut.
Produksi ini melibatkan sejumlah aktor Korea Selatan dan Indonesia. Beberapa nama yang turut membintangi film tersebut antara lain Della Dartyan, Sujiwo Tejo, Kwon Da-ham, Lee Jeong-hoon, dan Choi Tae-eun. Pengambilan gambar juga dilakukan di sejumlah lokasi di Pulau Bali yang dikenal memiliki kekayaan budaya serta nuansa spiritual yang kuat.
Kehadiran film ini memunculkan beragam respons dari masyarakat Indonesia. Sebagian menilai pengangkatan budaya dan tradisi Bali dalam film internasional merupakan bentuk promosi budaya Indonesia ke panggung dunia. Namun, tidak sedikit pula yang mengkhawatirkan penggambaran Nyepi dalam genre horor dapat menimbulkan persepsi yang kurang tepat mengenai makna sesungguhnya dari hari suci tersebut.
Nyepi sendiri merupakan momen sakral bagi umat Hindu di Bali yang dijalankan dalam suasana hening, refleksi, dan penyucian diri. Pada hari tersebut, masyarakat menjalankan Catur Brata Penyepian yang meliputi tidak menyalakan api atau cahaya berlebihan, tidak bepergian, tidak bekerja, serta tidak menikmati hiburan. Tradisi ini bahkan dikenal hingga mancanegara karena mampu membuat Pulau Bali benar-benar sunyi selama 24 jam.
Di sisi lain, kemunculan “Taboo: The Silent Day” juga memunculkan pertanyaan menarik di kalangan warganet: apakah industri perfilman Indonesia justru kecolongan? Pasalnya, hingga saat ini belum banyak film Indonesia yang menjadikan Nyepi sebagai tema utama atau latar sentral dalam sebuah film horor layar lebar. Padahal, tradisi tersebut memiliki nilai budaya, spiritual, dan sinematik yang sangat kuat untuk diangkat ke layar lebar.
Perdebatan pun muncul antara mereka yang melihat film ini sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya Indonesia dan mereka yang menilai sineas nasional seharusnya lebih dahulu mengangkat kekayaan budaya Nusantara menjadi karya berskala internasional.
Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa Nyepi Bali kini menjadi perhatian publik internasional melalui medium film. Hal tersebut menunjukkan bahwa budaya Indonesia memiliki daya tarik besar dan mampu menjadi inspirasi bagi industri kreatif dunia.
Hingga kini, pihak produksi masih belum mengumumkan tanggal resmi penayangan film tersebut. Meski demikian, “Taboo: The Silent Day” disebut akan hadir di bioskop pada tahun 2026 dan telah menarik perhatian pecinta film horor di berbagai negara bahkan sebelum perilisannya,***
