Uncategorized

Seni dan Teknologi Bersatu, Cara Baru Museum Menghidupkan Kisah Manusia Purba

Batavia News JAKARTA – Upaya memperbarui cara museum menyampaikan sejarah kepada publik menjadi sorotan dalam seminar dan pameran karya bertajuk “Menghidupkan Fosil Manusia Purba Menggunakan Bit Arrangement di Museum Arkeologi Sangiran” yang digelar di Teater Luwes, Taman Ismail Marzuki, Jumat (6/3/2026).

Dalam forum akademik tersebut, seniman sekaligus akademisi, Dr. Sudibyo, memaparkan gagasan transformasi komunikasi museum agar lebih interaktif, imersif, dan mampu menyentuh emosi pengunjung.

Menurutnya, pendekatan museum konvensional yang umumnya hanya menampilkan artefak dengan keterangan teks perlu diperbarui. Cara lama dinilai kurang efektif menjangkau generasi baru yang tumbuh dalam budaya visual dan teknologi digital.

Melalui konsep yang ia kembangkan, sejarah manusia purba di Museum Arkeologi Sangiran tidak hanya disajikan sebagai objek penelitian ilmiah, tetapi juga dihidupkan sebagai pengalaman naratif yang lebih dramatis dan komunikatif.

Sudibyo memperkenalkan metode dramaturgi bit arrangement, yakni teknik membangun karakter melalui rangkaian unit tindakan dramatis.Metode ini dipadukan dengan seni peran realis dan teknologi digital imersif, termasuk film tiga dimensi yang diproyeksikan dalam format bioskop 4D.

Pendekatan tersebut memungkinkan fosil manusia purba direkonstruksi menjadi tokoh naratif yang memiliki tujuan, konflik, serta perjalanan dramatik. Narasi tersebut kemudian divisualisasikan melalui film imersif yang dapat diputar di ruang pertunjukan museum.

“Pengalaman belajar di museum seharusnya tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga menyentuh imajinasi dan empati pengunjung,” ujar Sudibyo dalam paparannya.

Program ini dikembangkan melalui pendekatan multidisipliner yang memadukan riset antropologi dan sejarah dengan seni pertunjukan, kecerdasan buatan, animasi digital, serta teknologi visual imersif.

Tahapan pengembangannya meliputi penelitian ilmiah tentang manusia purba, penyusunan narasi dramatik, produksi film edukatif, hingga integrasi sistem pertunjukan digital dalam ruang museum.

Melalui proyek ini diharapkan lahir model komunikasi museum berbasis performatif-digital yang mampu memperkaya cara publik memahami sejarah evolusi manusia.

Gagasan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat peran Museum Arkeologi Sangiran sebagai living museum, yakni ruang pembelajaran aktif yang tidak hanya menyimpan artefak, tetapi juga menghadirkan pengetahuan ilmiah dalam pengalaman budaya yang hidup.

Dengan pendekatan baru tersebut, museum diharapkan tidak lagi dipandang sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, melainkan ruang pengalaman yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan imajinasi masyarakat luas.***

Related posts

Penyiapan Penutupan TMMD Reguler ke-128 Terus Dimatangkan

egi murad

Tebar Manfaat di Hari RayaKurban Bersama BRI Pasar Minggu

egi murad

Kuasa Hukum Laporkan Dugaan Perusakan Hutan Lindung di Batam, Seret Nama Perusahaan hingga Pejabat

egi murad